Buku Sarinah berisi enam bab yang seluruhnya berbicara tentang perempuan. Buku itu merupakan karya Soekarno yang sempat ia tulis selama kurun waktu dua tahun lamanya sebeulm akhirnya dapat terbit pada tahun 1947 di tengah konflik melawan penjajah. Pada buku tersebut juga dikisahkan bagaimana Soekarno dalam perannya mendukung perempuan Indonesia yakni dengan memberikan kursus politik perempuan setiap dua minggu sekali di Jogjakarta pada masa itu.
Sebelum membedah isi buku, saya terlebih dahulu menyuguhkan pengantar kesarinahan.
Pengantar Kesarinahan
SIAPAKAH SARINAH??
Kita mungkin sering mendengar nama ini. Nama yang sebenarnya tak beda dengan nama-nama yang lain yang ada di Indonesia dan di daerah manapun layaknya nama Dewi, Astuti, atau Rati juga memiliki kedudukan yang sama. Namun apa yang membedakannya?... ya, nama tersebut selalu mampu membawa kita kepada tokoh revolusioner bangsa Indonesia, Soekarno. Hubungan yang sangat erat antara mereka berdua nampaknya bisa kita cermati dari buku Soekarno penyambung lidah rakyat. Tak kurang dari 8 kali bung Karno memunculkan nama beliau dalam tulisannya itu, ini juga belum termasuk dalam buku SARINAH.
Sarinah merupakan wanita yang menjadi figur kunci dari seorang bung Karno sebagaimana dikutip dalam buku Penyambung Lidah Rakyat, yakni:
“Sarinah adalah bagian dari rumah tangga kami. Tidak kawin. Bagi kami dia seorang anggota keluarga kami. Dia tidur dengan kami, tinggal dengan kami, memakan apa yang kami makan, akan tetapi dia tidak mendapat gaji sepeserpun. Dialah yang mengajarkanku tentang cinta kasih. Aku tidak menyinggung pengertian jasmaniahnya bila aku menyebut itu. Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata. Selagi dia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk di sampingnya. Dan kemudian ia berpidato, “Karno, yang terutama engkau harus mencintai ibumu. Akan tetapi engkau juga harus mencintai pula rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya.”
Sarinah adalah nama yang biasa. Akan tetapi sarinah yang ini bukanlah wanita yang biasa. Ia adalah suatu kekuatan yang paling besar dalam hidupku. Di masa mudaku aku tidur dengan dia. Maksudku bukan sebagai suami-istri. Kami berdua tidur di tempat tidur yang kecil. Ketika aku sudah mulai besar, sarinah sudah tidak ada lagi”.
Dalam kutipan tulisan yang diambil dari buku Penyambung Lidah Rakyat di atas, kita dapat menangkap bahwa sosok sarinah merupakan sosok yang sangat penting bagi Soekarno. Ajaran yang disampaikan oleh Sarinah mengenai cinta kasih yang merupakan nilai-nlai dari humanisme selalu melekat ke dalam pemikiran Soekarno. Hal ini dibuktikan Bung Karno, ketika beliau melakukan perjalanan ke Bandung selatang yang berakibatkan pertemuan dengan petani Marhaen yang mengispirasi lahirnya Marhaenisme yang merupakan Wujud kepedulian Bung Karno terhadapa rakyat jelata sesuai dengan pesan Mbok Sarinah, menjadi suatu bukti bahwa nilai-nilai yang selalu ditanamkan Sarinah ketika Soekarno kecil selalu menemaninya masak, teraplikasikan oleh Soekarno dewasa.
Di dalam buku Sarinah yang dituliskan oleh Bung Karno ia berkata “Saya namakan kitap ini Sarinah sebagai tanda terima kasih saya kepada pengasuh saya ketika saya masih kanak-kanak. Pengasuh saya itu bernama Sarinah. Ia “Mbok” saya. Dari dia saya banyak mendapat pelajaran mencintai “orang kecil”. Dia sendiri pun örang kecil”, tetapi budinya besar.
Pengaruh Sarinah dalam kehidupan Soekarno selalu menjadi latar belakang dari keberhasilan-keberhasilan beliau dalam memberikan nilai-nilai yang terbaik bagi negara ini.
BAB I
SOAL PEREMPUAN
Soekarno membahas mengenai bagaimana perempuan pada jaman dahulu dalam konteks sebelum dan setelah kemerdekaan Indonesia dipandang. Pada jaman dahulu banyak perempuan terutama yang sudah menikah terkesan terkurung dan hanya menjadi perempuan yang mengurusi urusan “dapur”. Banyak pria yang tidak memperkenankan istrinya untuk keluar rumah bahkan hanya untuk menemui dan bertegur sapa dengan tamu yang berkunjung di rumah. Pada jaman dahulu banyak pula laki-laki yang berupaya memperlakukan istrinya seperti mutiara dengan tidak mengizinkannya keluar rumah hanya untuk menghindari istrinya dari hinaan atau cacian orang. Akan tetapi, Soekarno menganggap bahwa laki-laki pada waktu itu justru seperti menaruh mutiara dalam kotak. Sehingga perempuan seolah terkungkung dari dunia luar.
Indonesia memang cukup terbelakang dalam urusan perjuangan kaum perempuan. Seperti di Eropa muncul adanya paham feminisme dan neo feminismenya, untuk memperjuangkan nasib kaum perempuan, akan tetapi dari paham tersebut, Soekarno beranggapan bahwa belum juga muncul adanya hasil yang memuaskan untuk meningkatkan derajat perempuan.
Soekarno mencoba mengutip perkataan Ki Hajar Dewantara mengenai perempuan, yakni “Janganlah tergesa-gesa meniru cara modern atau cara Eropa, janganlah juga terikat oleh rasa konservatif atau cara sempit, tetapi cocokanlah semua barang dengan kodratnya”. Soekarno sendiri juga telah mencoba menggali bagaimana sejatinya posisi perempuan di dalam masyarakat Islam, akan tetapi dari berbagai kitab yang beliau baca banyak aliran mengenai bagaimana posisi perempuan dalam Islam dan banyak perdebatan pula didalamnya. Oleh karena itu Soekarno berupaya mencari jawaban atas bagaimana sejatinya posisi perempuan dalam masyarakat, dikarenakan sabda Nabi Muhammad S.A.W. jelas bahwasanya “Perempuan itu tiang negeri. Manakala baik perempuan, baiklah negeri. Manakala rusak perempuan, rusaklah negeri”. Sehingga sangat penting dalam urusan berbangsa dan bernegara ini baik kaum laki-laki dan perempuan bersama-sama saling memikirkan untuk kepentingan masyarakat dan negara. Soekarno mengatakan pula bahwa dalam urusan laki-laki dan perempuan selalu terdapat hal yang pincang atau timpang. Sehingga perlu untuk melakukan harmonisasi dengan menghilangkan pandangan saf satunya lebih tinggi dari saf lainnya. Dikarenakan sejatinya kedua saf tersebut haruslah bersifat sederajat, yang satu disebelah yang lain dan yang satu memperkuat kedudukan yang lain dengan disesuaikan oleh kodratnya masing-masing.
Inti dari bab ini Soekarno ingin menekankan bahwa Perempuan harus memiliki derajat yang sama dengan Laki-Laki dan saling mengisi satu dengan yang lain tanpa harus menyalahi kodratnya masing-masing. Sedangkan dalam mewujudkan kondisi tersebut, paham-paham lain seperti Feminisme dan Neo Feminisme tidaklah tepat dalam konteks Indonesia, melihat belum adanya hasil nyata dari pergerakan paham tersebut.
Komentar
Posting Komentar