BAB II
LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
Soekarno dalam bab ini menjelaskan bahwa
sejatinya manusia diciptakan berpasang-pasangan seperti Firman Allah S.W.T.
dalam surat Yasin ayat 30 bahwa “Mahamulialah dia, yang menjadikan segala
sesuatunya berpasang-pasangan”. Soekarno juga mengutip perkataan Baba O’llah
bahwa “laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung, jika
dua sayap burung itu sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai puncak
udara yang setingi-tingginya, jika patah satu dari pada kedua sayap itu, maka
tak dapatlah terbang burung itu sama sekali”. Dalam bab ini, Soekarno lebih
membahas mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan secara kodratiahnya.
Bagaimana perempuan memiliki fisik yang berbeda dari laki-laki dan perbedaan
fisik tersebut memiliki fungsinya masing-masing.
BAB III
DARI GUA KE KOTA
Pada bab ini Soekarno mengulas mengenai
perjalanan perempuan dari jaman awal adanya manusia dari jaman berburu dan
meramu hingga munculnya peradaban modern. August Babel mengatakan bahwa “wanita
merupakan budak pertama, sebelum ada budak”. Masa tersebut terjadi pada zaman
berburu dan meramu. Yang mana laki-laki bertugas untuk berburu sedangkan
perempuan disuruh berdiam didalam gua dan menjaga perapian serta mencari
akar-akaran dan dedaunan. Hukum persuami-isterian belum ada dalam zaman tersebut,
sehingga yang terjadi adanya pasangan-pasangan dan perkawinan yang bersifat
sementara.
Selanjutnya muncul adanya zaman bertani
dan berternak, yang secara mendasar membawa pengaruh besar terhadap posisi
perempuan. Perempuan menjadi kunci produksi kebutuhan pangan. Ketika kaum
laki-laki sibuk mencari ikan dan berburu diluar, kaum perempuan mulai berfikir
bagaimana cara membangun tempat untuk berlindung untuk anak-anaknya dari
sengatan matahari dan binatang buas. Hingga muncul adanya cikal-bakal rumah sebagai
tempat berlindung. Kautsky mengatakan bahwa “perempuan adalah pembangun
peradaban yang pertama dan bukan laki-laki”. Terlebih kemudian kaum laki-laki
yang bertugas berburu dan mencari ikan, tidak dapat setiap saat mendapatkan
hasil buruannya, sedangkan dari pertanian dan peternakan kaum perempuan selalu
konsisiten menghasilkan bahan pangan. Disitulah posisi perempuan menjadi
semakin vital dalam proses bertahan hidup.
Disisi lain ketika pertanian dan
peternakan semakin maju, dan berburu tidak dapat menjadi pegangan utama dalam
memenuhi kebutuhan hidup, selanjutnya kaum pria tidak lagi berpergian jauh
kedalam rimba. Mereka kemudian ikut andil dalam berternak dan bertani. Fase
tersebutlah yang disebut oleh Soekarno sebagai fase ketiga. Dalam fase ini kedudukan
perempuan kembali mulai meredup dikarenakan laki-laki berupaya menancapkan
pengaruhnya dengan ikut andil dalam bertani dan berternak.
Kemudian dengan masuknya ajaran agama
yang dibawa oleh Nabi Isa A.S. dan Nabi Muhammad S.A.W. posisi perempuan kembali
mulai dijunjung. Akan tetapi dalam perjalanannya masih saja perempuan belum
secara sepenuhnya diposisikan secara sejajar dengan kaum pria.
Kemudian muncul adanya fase
industrialisasi pada abad ke-18 yang diawali di Eropa. Kondisi tersebut juga
merubah tatanan dan posisi kaum perempuan dan pria. Perempuan mulai ikut
menjadi pekerja didalam pabrik-pabrik dan tidak lagi hanya didalam rumah untuk
mengasuh anak dan menenun baju. Kemudian pada abab ke-19, industrialisasi mulai
masuk ke Asia dan perempuan mulai menjadi pekerja di pabrik-pabrik tenun,
pabrik teh dan lain sebagainya dan tidak lagi berada didalam tirai-tirai rumah
yang jauh dari gambaran dunia luar. Akan tetapi dalam perjalanannya dari jaman
berburu dan meramu hingga jaman industrialisasi Soekarno melihat perempuan
secara garis besar hanya lebih kepada sebagai kaum yang diperdayakan. Bukan
sebagai kaum yang memiliki derajat setara dengan kaum pria.
BAB IV
MATRIARCHAT DAN PATRIARCHAT
Soekarno membahas mengenai matriachat dan
patriachat. Matriachat adalah hukum keturunan yang mengariskan pada hukum
keibuan. Soekarno memandang bahwa matriachat ada yang membawa kemuliaan bagi
perempuan tetapi ada pula yang tidak membawa kemuliaan bagi perempuan itu
sendiri. Soekarno beranggapan bahawa kehidupan perempuan dalam berbagai suku yang
menerapkan hukum peribuan sama saja menderitanya dengan perempuan di suku yang
menerapkan hukum perbapakan. Kemudian dengan hukum perbapakan, Marx mengatakan
bahwa perpindahan dari hukum beribuan ke hukum perbapakan adalah perpindahan
yang paling sesuai dengan kodrat alam, Engels juga mengatakan bahwa perpindahan
tersebut juga sebagai kemajuan dalam sejarah yang besar. Hanya saja disayangkan
sekali perpindahan hukum keturunan tersebut masih dibarengi dengan adanya
perbudakan dan penindasan terhadap kaum perempuan. Soekarno juga beranggapan
bahwa dengan melihat kodrat ilahi hukum patriachat merupakan hukum yang paling
pas, akan tetapi yang perlu dihindari adalah perbudakan dan penindasan terhadap
kaum perempuan. Soekarno juga mengatakan bahwa moderenitas juga tidak dibarengi
dengan peningkatan derajat perempuan.
BAB V
WANITA BERGERAK
pada bab ini Soekarno lebih berbicara
mengenai pergerakan wanita. Pergerakan kaum perempuan diawali dengan
kondisi-kondisi yang mana menempatkan perempuan sebagai kaum yang selalu
tertindas oleh kaum laki-laki. Dunia Barat menjadi tempat lahirnya pergerakan
perempuan di Dunia, sedangkan di Asia, perempuan masih diam-diam saja dalam
pingitan-pingitan kaum laki-laki. Soekarno melihat pergerakan kaum perempuan
kedalam 3 (tiga) tingkatan.
Tingkatan pertama, pada tingkatan
tersebut perempuan bergerak lebih dengan membentuk perserikatan-perserikatan
yang anggotanya pada umumnya terdiri dari wanita dari kalangan atas. Tujuan
dari adanya perserikatan tersebut hanya sebatas terkait dengan urusan memperhatikan
kerumahtanggaan. Yakni seperti terkait ilmu memasak, ilmu kecantikan, ilmu
estetika, yang menyempurnakan perempuan sebagai istri atau ibu. Akan tetapi
hal-hal terkait dengan perbandingan hak laki-laki dan perempuan tidak
disinggung didalamnya.
Tingkatan kedua, pada tingkatan ini,
pergerakan perempuan tidak lagi berbicara mengenai hal-hal untuk menyempurnakan
peran perempuan akan tetapi lebih kepada upaya menuntut kesetaraan hak dan
derajat dengan kaum laki-laki. Seperti adanya pergerakan feminisme, yang
seringkali juga dinamakan pergerakan emansipasi wanita yang aksinya lebih
bersifat menentang kaum laki-laki.
Tingkatan ketiga, merupakan tingkatan
yang mana perempuan dan laki-laki sama-sama berjuang bahu-membahu, untuk
mendatangkan masyarakat sosialistis, yang mana laki-laki dan perempuan itu
sama-sama sejahtera dan sama-sama merdeka.
Soekarno juga mencoba memberikan
penilaian terhadap pergerakan-pergerakan feminisme di Eropa. Menurutnya
pergerakan feminisme di Eropa tidak memberikan kepuasan terhadap kalangan
wanita rakyat jelata. Karena pada sisi lain terkadang feminisme malah tidak
memberikan pemecahan soal terhadap masalah wanita rakyat jelata dan justru
malah sering menjadi lawan dalam usaha kaum wanita rakyat jelata dalam
menyelesaikan persoalannya. Hal ini dikarenakan kaum wanita rakyat jelata tidak
hanya mencari kemerdekaan politik, akan tetapi juga mencari kemerdekaan ekonomi
dan kemerdekaan sosial. Sehingga dalam pergerakan mencari kemerdekaan sosial
dan ekonomi tersebutlah muncul adanya pergerakan wanita tingkat ketiga.
BAB VI
SARINAH DALAM PERJOANGAN REPUBLIK
INDONESIA
Pada bab ini, Soekarno lebih bercerita
mengenai Sarinah dalam Perjuangan Republik Indonesia. Soekarno mengatakan bahwa
hanya dengan perjuangan sosialisme kaum perempuan dapat tertolong sehingga
perempuan harus ikut dalam perjuangan dalam upaya mencapai sosialisme tersebut.
Akan tetapi, perjuangan tersebut juga harus diawali dengan penyadaran baik
kepada kaum perempuan dan begitu juga kepada kaum laki-laki. Sehingga
pikiran-pikiran kolot laki-laki kepada perempuan juga dapat luntur dan
perempuan paham mengenai apa yang harus diperjuangkan dengan demikian
perjuangan akan dapat berjalan secara masif. Soekarno juga mencontohkan kondisi
India seperti yang disampaikan oleh Mahatma Gandhi mengenai buku “India of my
dreams” bahwa “banyak sekali pergerakan-pergerakan kita kandas ditengah jalan,
oleh karena keadaan kaum wanita kita”. Sedangkan di Russia Timur, kemajuan
daerah tersebut pesat pada kala itu dikarenakan kaum perempuan sadar akan
peranannya dalam perjuangan untuk mencapai kemerdekaan sosial dan ekonomi.
Lenin juga pernah menyampaikan bahwa “Jikalai tidak dengan mereka (wanita),
kemenangan tidak mungkin kita capai”.
Pada konteks pasca kemerdekaan di tahun
1947 buku ini diterbitakan, tentu butuh upaya-upaya untuk mempertahankan
kemerdekaan dan memperjuangkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Melalui bab ini, Soekarno ingin memberikan contoh bagaimana keberhasilan di
India dan Russia dalam pergerakan mencapai sosialisme dengan bersatunya kaum
perempuan dan kaum laki-laki. Soekarno juga menyerukan bahwa, dari situlah
sekiranya kemudian perjuangan bangsa ini, harus dibarengi dengan penggabungan
kekuatan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan bersama-sama
mencapai satu tujuan yang bulat tidak ada satu tenagapun yang tercecer.
Soekarno juga berharap pada konteks tahun tersebut, baik feminisme dan
sosialisme bersatu padu dan bukan saling menentang satu dengan yang lain demi
kepentingan perjuangan untuk Republik Indonesia.
Sumber:
Soekarno. 1947. Sarinah: Kewajiban Perempuan dalam Perjuangan
Republik Indonesia. Yogyakarta: Oesaha Penerbitan Goentoer.
Komentar
Posting Komentar