Pokok perjuangan yang dilakukan para feminis Marxis adalah menempatkan kapitalisme sebagai asal mula eksploitasi perempuan. Feminisme Marxis berkonsentrasi pada aspek ekonomi dari penindasan perempuan dan menganjurkan perbaikan yang sebagian besar bersumber pada prinsip-prinsip Marxisme. Feminis Marxis kemudian memperluas analisis marxis tradisional dan menerapkan pada pekerjaan rumah tangga tak berbayar.
Pendekatan Feminis Marxis mulai
dikembangkan pada tahun 1970-an yang memberikan garis besar pendekatan marxis
terhadap penindasan perempuan dan ketidaksetaraan dalam keluarga dan rumah
tangga. Engels dalam bukunya The Origin of the Family, Private Property and the
State, kemudian menawarkan penjelasan mengapa
perempuan teropresi sebagai perempuan. Engels berargumen bahwa
masyarakat awal merupakan masyarakat matrilineal dengan garis hak waris dan
keturunan ditelusuri dari garis ibu. Ia juga berspekulasi bahwa masyarakat ini
sekaligus matriarkal, dengan perempuan mempunyai kekuatan ekonomi, sosial dan
politik. Setelah itu mengalami pergeseran ketika domestikasi
binatang dan pembiakan ternak menjadi sumber kekayaan baru bagi
masyarakat.
Laki-lakilah yang kemudian
mempunyai kendali kepemilikan pribadi atas atas hewan, peralatan, dan
tanah, dan beruhasa mengontrol surplus untuk memastikan legitimasi ahli waris
mereka. Selain itu laki-laki juga mengontrol seksualitas perempuan, membangun
dominasi dalam rumah tangga dan masyarakat, dan membentuk garis keturunan
patrilinear. Hal ini mengakibatkan kekalahan sejarah dunia dari jenis kelamin
perempuan dan perempuan direduksi menjadi perbudakan dan alat untuk
menghasilkan anak.
Dari sinilah
awal mula penindasan terhadap perempuan yang berasal dari ranah pekerjaan
domestik dalam rumah tangga atau keluarga. Menurut feminis Marxis subordinasi
perempuan melayani kebutuhan akan kapitalis. Dalam hubungan ekonomi dan
karakteristik gagasan dari mode kapitalisme produksi yang kita seharusnya mencari
struktur ketidaksetaraan yang secara tidak adil menghambat kehidupan perempuan,
kebalikan dari kehidupan laki-laki yang serba menikmati keuntungan dan
kelebihan.
Feminis Marxis
menekankan posisi ekonomi perempuan dalam masyarakat kapitalisme menegaskan
bahwa subordinasi perempuan disebabkan oleh ketikdakberuntungan ekonomi yang
mereka alami sebagai akibat dari kondisi kapitalis.
Di bawah
kondisi kapitalisme, perempuan hidup dalam keluarga sebagai istri dan ibu.
Dalam keluarga ini, perempuan merupakan sumber tenaga kerja domestik yang tak
dibayar yang pekerjaan mereka sebenarnya sangat penting bagi kapitalisme karena
menjadi penghasil komoditi dalam industri. Jadi, baik memberikan pelayanan
domestik untuk melestarikan pekerjaan laki-laki yang juga adalah suami mereka
maupun melahirkan dan membesarkan anak-anak yang kelak menjadi tenaga kerja
generasi baru. Oleh karena itu jauh lebih penting bagi kapitalisme kalau
mempunyai tenaga kerja domestik perempuan yang tak dibayar daripada membayar
lebih besar tenaga kerja laki-laki dan kemudian membeli pelayanan domestik pula
di pasar.
Senada dengan Margaret
Benston dalam bukunya yang berjudul "The Political Economy of Women's
Liberation," menekankan produksi perempuan dalam keluarga sebagai hal yang
penting untuk kapitalisme dan posisi mereka dalam kapitalisme. Menurut Benston,
fakta bahwa sejumlah besar pekerjaan yang diperlukan secara sosial dilakukan
dalam keluarga inti secara gratis adalah salah satu cara utama pengaturan
sosial/seksual tradisional yang sangat bermanfaat bagi kapitalisme. “Dalam
masyarakat di mana uang menentukan nilai, perempuan adalah kelompok yang
bekerja di luar ekonomi uang.
Kedudukan
perempuan di bawah kapitalis, Feminis Marxis menyebutnya sebagai pekerjaan reproduktif
karena sering dikaitkan dengan peran pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga termasuk
membersihkan, memasak, merawat anak, dan tenaga kerja rumah
tangga yang tidak dibayar. Istilah ini telah mengambil peran
dalam filosofi dan wacana feminis sebagai cara
untuk menarik perhatian pada bagaimana perempuan secara khusus ditugaskan
ke ranah domestik, di mana tenaga kerja bersifat
reproduktif dan dengan demikian tidak dikompensasi dan tidak diakui dalam
sistem kapitalis.
Kapitalisme memicu pembagian ekonomi menjadi sektor yang terlihat dan tidak terlihat untuk
menangkap nilai tersembunyi dari tenaga kerja
rumah tangga yang tidak dibayar. Hanya
yang memiliki nilai di pasar ditugaskan ke
ekonomi formal sementara pekerjaan diperlukan untuk
memproduksi dan memelihara rumah tangga didefinisikan ulang menjadi "tidak bekerja". Kerja yang menghasilkan uang di
tempat kerja kapitalis atau pasar kemudian didefinisikan sebagai "produktif."
Bersamaan dengan itu, tenaga kerja di dalam rumah
tangga didevaluasi dengan mitos bahwa ia tidak menghasilkan surplus yang dapat disesuaikan. Ini adalah bentuk upah yang mengaburkan hubungan
pekerja rumah tangga dengan
modal. Bahkan meskipun tidak dihargai di pasar, pekerjaan rumah tangga memiliki nilai ekonomi,
dan sifatnya tidak berupah membuatnya sangat
menguntungkan. Pekerjaan ibu rumah tangga yang tidak dibayar “terwujud dalam
kerja upahan, dan itu adalah masukan
langsung ke dalam produksi. Ibu rumah tangga tidak
perlu menjual tenaganya kepada kapitalis untuk menghasilkan surplus ekonomi.
Diperdagangkan dulu kepada suami untuk nafkah sebagian,
kemudian ada di tenaga
suami sebagai unsur penghidupan
yang tersedia untuk modal secara cuma-Cuma. Itulah kenapa pekerjaan perempuan
dipandang skunder dan pelengkap saja bagi penghasilan suami, sehingga ganjaran
mereka juga pelengkap saja. Upah perempuan yang berkeluarga tidak perlu sama
dengan upah pekerja yang membujang. Oleh sebab itu, perempuan berkeluarga atau
berumahtangga adalah pekerja semi-proletariat, secara ekonomi jauh kurang beruntung
dari pada kelas pekerja.

Komentar
Posting Komentar