Pergerakan mahasiswa adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di
dalam maupun luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan,
intelektualitas, dan kemampuan kepemimpinan. Gerakan mahasiswa ada di
Indonesia sejak tahun 1908 dan melebar di era reformasi. Oleh sebab itu,
gerakan mahasiswa kerap dianggap sebagai cikal bakal perjuangan nasional,
terutama kaitannya dengan keterlibatan dalam memperbaiki tatanan sosial yang
timpang.
Sesuai dengan karakter diatas yang berorientasi pada nilai-nilai
ideal dan kebenaran membuat mahasiswa menjadi peka dan peduli terhadap
persoalan-persoalan yang terjadi di lingkungannya terutama yang menyangkut
bentuk-bentuk pelanggaran dan penyelewengan yang selalu merugikan masyarakat.
Dalam konteks inilah, mahasiswa sering berperan mewarnai perkembangan
masyarakat, perubahan sosial maupun politik. Gerakan sosial mahasiswa memiliki
peran sebagai pengawal kebenaran dan kontrol sosial terhadap lingkungan sosial
dan penyelenggaraan pemerintahan pada suatu wilayah maupun negara.
Namun, melihat perkembangan gerakan mahasiswa hingga kini, patut
menaruh rasa was-was terhadap keterlibatan mahasiswa pada umumnya, khususnya
kaum perempuan. Padahal gerakan mahasiswa itu dituntut untuk dapat
menyelaraskan diri terhadap nilai dan prinsip pendidikan yang partisipatif,
non-diskriminatif, berkeadilan gender yang komprehensif.
Namun. keterlibatan perempuan dalam pergerakan mahasiswa masih
sangat minim dibandingkan laki-laki. Fenomena ini dipicu oleh beberapa faktor
yang mempengaruhi ruang gerak perempuan. Pertama, konstruksi
sosial masyarakat. Pembahasan tentang perempuan sangat erat kaitannya dengan
konstruksi sosial yang sangat mempengaruhi pembentukan identitas perempuan itu
sendiri. Mulailah dengan bagaimana seharusnya perempuan bersikap, seperti apa
rupa mereka, pekerjaan, atau yang biasa kita sebut "kodrat". Tentu
saja, kita semua akrab dengan ungkapan "dapur, sumur, dan kasur"
sebagai definisi sederhana dari "sifat" perempuan dalam masyarakat.
Dalam tafsirnya, perempuan diciptakan untuk bisa memasak, mengurus
anak, membersihkan dan merapikan rumah, serta melayani suami. Sangat sulit
untuk mengoreksi ide-ide diskriminatif yang masih marak di masyarakat saat ini.
Biasanya orang yang lahir dan hidup dalam budaya yang diskriminatif menilai
perempuan hanya sebagai kelompok yang kompeten di tiga bidang tersebut. Kalau
tidak, dia tidak akan dianggap sebagai "gadis sejati".
Konstruksi “alamiah” perempuan inilah yang menyebabkan lahirnya
prasangka seksis dan berkontribusi besar terhadap lahirnya ketimpangan sosial,
khususnya di kalangan perempuan. Diskriminasi, objektifikasi, penaklukan,
marginalisasi, beban ganda, stereotip, dll.
Berbagai bentuk pembatasan ruang yang dikenakan pada perempuan ini
berlaku tidak hanya pada tatanan sosial rumah dan masyarakat, tetapi juga
sebagai titik awal komunitas atau dukungan bagi masyarakat pada umumnya,
khususnya perempuan.
Hal ini tentu saja dapat mempengaruhi ruang pergerakan perempuan
dalam mengekspresikan kebebasannya.
Kedua, Kesadaran
perempuan. Kesadaran yang dimaksud adalah bagaimana perempuan bisa mengandalkan
dirinya sendiri dan lebih percaya pada diri sendiri. Bahwasannya bagaimana cara
perempuan dalam memerdekakan diri dan mampu menentukan pilihan sendiri.
Dalam berbagai hal, marginalisasi perempuan tidak bisa lepas dari
asumsi diskriminatif mereka sendiri. Tidak jarang perempuan membuat asumsi yang
merendahkan tentang perempuan lain. Hal yang mendasari anggapan tersebut adalah
anggapan bahwa jenis kelamin tertentu (dalam hal ini laki-laki) memiliki
keunggulan dibandingkan perempuan, sehingga laki-laki selalu memimpin, baik itu
dalam pengambilan keputusan, pemilihan posisi, atau yang lainnya. Asumsi ini
terkadang didukung oleh keraguan diri perempuan. Akibatnya, perempuan yang
seharusnya diberi kesempatan untuk tampil menonjol dalam gerakan perempuan
tersingkir dan terpinggirkan karena keraguan diri perempuan. Selain itu,
kecemburuan sosial terhadap perempuan merupakan faktor umum dalam kehidupan
sehari-hari. Banyak perempuan melihat perempuan lain berhasil menduduki jabatan
tinggi dan mendapat kekaguman dari banyak partai politik. tampaknya kompetitif.
Lalu menganggap perempuan lain yang sukses sebagai musuh bukan sebagai
inspirasi untuk memantik peningkatan kompetisi diri. Nampaknya masyarakat kita belum sepenuhnya
menyadari bahwa perempuan telah lama tersubordinasi, terpinggirkan dan
terabaikan oleh mereka yang berkuasa.
Para perempuan yang seharusnya saling membantu saling berhadapan,
berjuang dan berhasil mengalahkan satu sama lain. Bagi perempuan, tujuan
promosi mereka terhalang karena mereka lebih mementingkan rasa takut bersaing
dan kurang percaya diri. Namun sekali lagi, laki-laki atau perempuan yang tidak
memiliki jenis kelamin atau yang memiliki pola pikir yang merendahkan peran dan
partisipasi perempuan tidak luput dari budaya seksisme yang sudah mendarah
daging dalam kehidupan kita. Perempuan harus bertindak progresif untuk meningkatkan
pengetahuan, kesadaran, dan keberanian.
Untuk mempersatukan dan memajukan solidaritas serta gerakan perempuan, perempuan harus menumbuhkan semangat yang konsisten untuk mendidik diri sendiri dan bangsanya. Seperti pepatah mengatakan, "Seorang perempuan adalah madrasah pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan dia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang berakar kebaikan." Berarti, perempuan harus mempunyai kontribusi peranan yang sangat penting dalam hal pergerakan untuk mewujudkan kemajuan bangsa.
Komentar
Posting Komentar