“Perlu ilmu yang tidak sederhana untuk
mendidik manusia. Itulah mengapa perempuan perlu terdidik karena ia akan
menjadi sekolah pertama bagi manusia berikutnya,”
Laman ini
dibuat atas dasar peduli terhadap perjuangan perempuan. Melihat kembali
jejak-jejak perjuangan yang telah ditapaki oleh para pendahulu agar kita bisa
merepresentasi kembali pergerakan tersebut pada situasi sekarang. Wujut
dari kepedulian ini, yaitu merespon konflik-konflik sosial terkait persoalan
perempuan. Melindungi perempuan dari segala bentuk penindasan.
Berbicara
tentang penindasan terhadap perempuan bisa kita lihat dan refleksikan kembali
mengenai sejarah peradaban perempuan. Mulai dari masa komunal, matriarki dan
sampai pada patriarki.
Sekilas tentang
sejarah peradaban perempuan bisa kita lihat kembali (Karlina dalam
Soekarno 2013). Sejak zaman kerajaan (Feodal) perempuan maupun basis yang
tertindas ini dibuktikan dalam sejarah pembagian kerja. Pada masa manusia komunal (kelompok),
manusia masih hidup berpindah-pindah (nomaden). Ketika manusia berkelompok,
dalam mencari kebutuhan hidup, maka dibentuklah “pembagian kerja”. Pembagian
kerja inilah yang menjadi penghalang atu batas antara laki-laki dan perempuan.
Di zaman ini, laki-laki berburu binatang sedangkan perempuan disuruh untuk
menunggu di gua sambil mencari tumbuh-tumbuhan kayu bakar untuk memasak. Jika
ketersediaan air dan makanan di tempat itu mereka pun pergi berpindah ke tempat
lain. Hubungan suami istri juga belum ada. Mereka yang ingin melakukan hubungan
seksual akan melakukannya dengan yang mereka suka. Lantas laki-laki tidak
terkena dampak dengan hubungan itu. Sang perempuanlah yang akhirnya harus
mengandung dan melahirkan. Perempuan
menjadi mahkluk yang ditaklukan. Ia diperintahkan seenaknya saja oleh
laki-laki. Kalau kata August Babel, perempuan adalah budak sebelum ada budak.
Lalu pada
masa berikutnya, masa dimulainya bercocok tanam, perempuan mulai menjadi
seorang produsen yang berharga. Dimulainya dari bidang pertanian. Perempuan
berinisiatif untuk bercocok tanam dengan menanam benih tumbuhan. Perempuan
merupakan seorang petani pertama. Lalu ketika perempuan harus merawat anaknya
dan mendapat tempat lindungan maka ia membangun rumah. Perempuanlah yang
pertama kali menciptakan peradaban yang maju. Namun, sistem peribuan
(matriarchat) diberlakukan di sini karena wanita yang hamil tidak tahu bapaknya,
namun ia tau siapa ibunyakarena ia yang melahirkan. Sistem ini idaklah adil
karena perempuan akan membawa laki-laki ke rumahnya.
Selanjutnya
adalah masa dimana laki-laki bertenak, ikut melakukan pertaian, membangun
rumah, dan mencari tanahnya. Lalu muncullah patriarchat untuk mewarisi
hartanya. Perempuan kembali terbelakang, tidak lagi menjadi produsen tertinggi.
Perempuan selanjutnya berlomba agar mendapat laki-laki yang mapan, dengan menggunakan
kecantikan, solek, dll.
Dari sejarah
peradaban tersebut kita dapat merefleksi kembali bagaimana memperjuangkan
eksistensi perempuan di tengah masyarakat karena bicara perempuan berarti
bicara masyarakat. Dengan adanya sitem patriarki yang salah paham atas pemaknaannya
sehingga perempuan merasa ditindas maka, kita perlu mengkaji kembali atas
kelewatan batas pemaknaan patriarki ini.
Oleh karena
itu mari kita kumpas tuntas mengenai pergerakan perempuan dalam memperjuangkan
hak-haknya yang tertindas melalui gagasan-gagasan dan data dalam tulisan
berikutnya.

Komentar
Posting Komentar